Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Nama ini berasal dari kata thekku (തേക്ക്) dalam bahasa Malayalam, bahasa di negara bagian Kerala di India selatan. Nama ilmiah jati adalah Tectona grandis L.f.
Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.[1] Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air.[2] Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa.[1]
Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati.[3]
Jati biasanya diproduksi secara konvensional dengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras.[3] Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri.[4] Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.[4]
Umumnya, Jati yang sedang dalam proses pembibitan rentan terhadap beberapa penyakit antara lain leaf spot disease yang disebabkan oleh Phomopsis sp., Colletotrichum gloeosporioides, Alternaria sp., dan Curvularia sp., leaf rust yang disebabkan oleh Olivea tectonea, dan powdery mildew yang disebabkan oleh Uncinula tectonae.[5] Phomopsis sp. merupakan penginfeksi paling banyak, tercatat 95% bibit terkena infeksi pada tahun 1993-1994.[5] Infeksi tersebut terjadi pada bibit yang berumur 2 – 8 bulan.[5] Karakterisasi dari infeksi ini adalah adanya necrosis berwarna coklat muda pada pinggir daun yang kemudian secara bertahap menyebar ke pelepah, infeksi kemudian menyebar ke bagian atas daun, petiol, dan ujung batang yang mengakibatkan bagian daun dari batang tersebut mengalami kekeringan.[5] Jika tidak disadari dan tidak dikontrol, infeksi dari Phomopsis sp. akan menyebar sampai ke seluruh bibit sehingga proses penanaman jati tidak bisa dilakukan.
Tectona
grandis
Jati
menyebar luas mulai dari India, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand, Indochina, sampai ke Jawa. Jati tumbuh di hutan-hutan gugur, yang
menggugurkan daun dimusim kemarau.
Menurut
sejumlah ahli botani, jati merupakan spesies asli di Burma, yang kemudian
menyebar ke Semenanjung India, Thailand, Filipina, dan Jawa. Sebagian ahli
botani lain menganggap jati adalah spesies asli di Burma, India, Muangthai, dan
Laos.
Sekitar
70% kebutuhan jati dunia pada saat ini dipasok oleh Burma. Sisa kebutuhan itu
dipasok oleh India, Thailand, Jawa, Srilangka, dan Vietnam. Namun, pasokan
dunia dari hutan jati alami satu-satunya berasal dari Burma. Di Afrika dan Karibia juga banyak
dipelihara.
Jati
paling banyak tersebar di Asia. Selain di keempat negara asal jati dan
Indonesia, jati dikembangkan sebagai hutan tanaman di Srilangka (sejak 1680),
Tiongkok (awal abad ke-19), Bangladesh (1871), Vietnam (awal abad ke-20), dan
Malaysia (1909).
Iklim
yang cocok adalah yang memiliki musim kering yang nyata, namun tidak terlalu
panjang, dengan curah hujan
antara 1200–3000 mm pertahun dan dengan intensitas cahaya yang cukup
tinggi sepanjang tahun. Ketinggian tempat yang optimal adalah antara 0 – 700 m
dpl; meski jati bisa tumbuh hingga 1300 m dpl.
Tegakan
jati sering terlihat seperti hutan sejenis, yaitu hutan yang seakan-akan hanya
terdiri dari satu jenis pohon.
Ini
dapat terjadi di daerah beriklim muson yang begitu kering, kebakaran lahan
mudah terjadi dan sebagian besar jenis pohon akan mati pada saat itu. Tidak
demikian dengan jati. Pohon jati termasuk spesies pionir yang tahan kebakaran
karena kulit kayunya tebal. Lagipula, buah jati mempunyai kulit tebal dan
tempurung yang keras. Sampai batas-batas tertentu, jika terbakar, lembaga biji
jati tidak rusak. Kerusakan tempurung biji jati justru memudahkan tunas jati
untuk keluar pada saat musim hujan tiba.
Guguran
daun lebar dan rerantingan jati yang menutupi tanah melapuk secara lambat,
sehingga menyulitkan tumbuhan lain berkembang. Guguran itu juga mendapat bahan
bakar yang dapat memicu kebakaran —yang dapat dilalui oleh jati tetapi tidak
oleh banyak jenis pohon lain. Demikianlah, kebakaran hutan yang tidak terlalu
besar justru mengakibatkan proses pemurnian tegakan jati: biji jati terdorong
untuk berkecambah, pada saat jenis-jenis pohon lain mati.
Tanah
yang sesuai adalah yang agak basa,
dengan pH antara 6-8, sarang (memiliki aerasi yang baik), mengandung cukup
banyak kapur (Ca, calcium) dan fosfor (P). Jati tidak tahan tergenang
air.
Pada
masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan
(diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu.
Menurut T.Altona, penanaman jati yang pertama dilakukan oleh orang hindu yang
datang ke Jawa. Sehingga terkesan, jati didatangkan oleh orang hindu atau
negeri hindulah tempat asli dari jati. Pendapat ini diperkuat oleh seorang ahli
botani, Charceus yang mengatakan bahwa jati di Pulau Jawa berasal dari India
yang dibawa sejak tahun 1500 SM sampai abad ke- 7 Masehi. Kontroversi ini
kemudian terjawab dengan penelitian marker genetik menggunakan teknik
isoenzyme/pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara pada
tahun 1994. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa jati yang tumbuh di Indonesia
(Jawa) merupakan jenis asli. Jati di Jawa telah berevolusi sejak puluhan hingga
ratusan ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ). Jati ini mengalami
mekanisme adaptasi khusus sesuai dengan keadaan iklim dan edaphis yang
berkembang puluhan hingga ratusan ribu tahun sejak zaman quarternary dan
pleistocene di asia Tenggara. Karena nilai kayunya, jati kini juga dikembangkan
di luar daerah penyebaran alaminya. Di Afrika tropis, Amerika tengah, Australia, Selandia Baru, Pasifik dan Taiwan.
Sebaran hutan jati di Indonesia
Di Indonesia sendiri, selain
di Jawa dan Muna, jati juga
dikembangkan di Bali dan Nusa Tenggara.
Dalam
beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk mengembangkan jati di Sumatera Selatan
dan Kalimantan Selatan. Hasilnya kurang menggembirakan. Jati mati setelah
berusia dua atau tiga tahun. Masalahnya, tanah di kedua tempat ini sangat asam.
Jati sendiri adalah jenis yang membutuhkan zat kalsium dalam jumlah besar, juga
zat fosfor. Selain itu, jati membutuhkan cahaya matahari yang berlimpah.
Sekarang,
di luar Jawa, kita dapat menemukan hutan jati secara terbatas di beberapa
tempat di Pulau Sulawesi, Pulau Muna, daerah Bima di Pulau Sumbawa, dan Pulau
Buru. Jati berkembang juga di daerah Lampung di Pulau Sumatera.
Pada
1817, Raffles mencatat jika hutan jati tidak ditemukan di Semenanjung Malaya
atau Sumatera atau pulau-pulau berdekatan. Jati hanya tumbuh subur di Jawa dan
sejumlah pulau kecil di sebelah timurnya, yaitu Madura, Bali, dan Sumbawa.
Perbukitan di bagian timur laut Bima di Sumbawa penuh tertutup oleh jati pada
saat itu.
Heyne,
pada 1671, mencatat keberadaan jati di Sulawesi, walau hanya di beberapa titik
di bagian timur. Ada sekitar 7.000 ha di Pulau Muna dan 1.000 ha di pedalaman
Pulau Butung di Teluk Sampolawa. Heyne menduga jati sesungguhnya terdapat pula
di Pulau Kabaena, serta di Rumbia dan Poleang, di Sulawesi Tenggara. Analisis
DNA mutakhir memperlihatkan bahwa jati di Sulawesi Tenggara merupakan cabang
perkembangan jati jawa.
Jati
yang tumbuh di Sulawesi Selatan baru ditanam pada masa 1960an dan 1970an.
Ketika itu, banyak lahan di Billa, Soppeng, Bone, Sidrap, dan Enrekang sedang
dihutankan kembali. Di Billa, pertumbuhan pohon jatinya saat ini tidak kalah
dengan yang ada di Pulau Jawa. Garis tengah batangnya dapat melebihi
30 cm.
Daerah sebaran hutan jati di Jawa
Sedini
1927, hutan jati tercatat menyebar di pantai utara Jawa, mulai dari Kerawang
hingga ke ujung timur pulau ini. Namun, hutan jati paling banyak menyebar di
Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu sampai ketinggian 650 meter di atas
permukaan laut. Hanya di daerah Besuki jati tumbuh tidak lebih daripada 200
meter di atas permukaan laut.
Di
kedua provinsi ini, hutan jati sering terbentuk secara alami akibat iklim muson
yang menimbulkan kebakaran hutan secara berkala. Hutan jati yang cukup luas di
Jawa terpusat di daerah alas roban Rembang, Blora, Groboragan, dan Pati.
Bahkan, jati jawa dengan mutu terbaik dihasilkan di daerah tanah perkapuran
Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah.
Saat
ini, sebagian besar lahan hutan jati di Jawa dikelola oleh Perhutani, sebuah
perusahaan umum milik negara di bidang kehutanan. Pada 2003, luas lahan hutan
Perhutani mencapai hampir seperempat luas Pulau Jawa. Luas lahan hutan jati
Perhutani di Jawa mencapai sekitar 1,5 juta hektare. Ini nyaris setara dengan
setengah luas lahan hutan Perhutani atau sekitar 11% luas Pulau Jawa dwipa.
Sifat-sifat kayu dan pengerjaan
Kayu
jati merupakan kayu kelas satu karena kekuatan, keawetan dan keindahannya.
Secara teknis, kayu jati memiliki kelas kekuatan I dan kelas keawetan I. Kayu
ini sangat tahan terhadap serangan rayap.
Kayu teras jati berwarna
coklat muda, coklat kelabu hingga coklat merah tua. Kayu gubal, di bagian luar,
berwarna putih dan kelabu kekuningan.
Meskipun
keras dan kuat, kayu jati mudah dipotong dan dikerjakan, sehingga disukai untuk
membuat furniture dan ukir-ukiran.
Kayu yang diampelas halus memiliki permukaan yang licin dan seperti berminyak.
Pola-pola lingkaran tahun pada kayu teras nampak jelas, sehingga menghasilkan
gambaran yang indah.
Dengan
kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu
mewah. Oleh karena itu, jati banyak diolah menjadi mebel taman, mebel interior,
kerajinan, panel, dan anak tangga yang berkelas.
Sekalipun
relatif mudah diolah, jati terkenal sangat kuat dan awet, serta tidak mudah
berubah bentuk oleh perubahan cuaca. Atas alasan itulah, kayu jati digunakan
juga sebagai bahan dok pelabuhan, bantalan rel, jembatan, kapal niaga, dan
kapal perang. Tukang kayu di Eropa pada abad ke-19 konon meminta upah tambahan
jika harus mengolah jati. Ini karena kayu jati sedemikian keras hingga mampu
menumpulkan perkakas dan menyita tenaga mereka. Manual kelautan Inggris bahkan
menyarankan untuk menghindari kapal jung Tiongkok yang terbuat dari jati karena
dapat merusak baja kapal marinir Inggris jika berbenturan.
Pada
abad ke-17, tercatat jika masyarakat Sulawesi Selatan menggunakan akar jati
sebagai penghasil pewarna kuning dan kuning coklat alami untuk barang anyaman
mereka. Di Jawa Timur, masyarakat Pulau Bawean menyeduh daun jati untuk
menghasilkan bahan pewarna coklat merah alami. Orang Lamongan memilih menyeduh
tumbukan daun mudanya. Sementara itu, orang Pulau Madura mencampurkan tumbukan daun
jati dengan asam jawa. Pada masa itu, pengidap penyakit kolera pun dianjurkan
untuk meminum seduhan kayu dan daun jati yang pahit sebagai penawar sakit.
Jati
burma sedikit lebih kuat dibandingkan jati jawa. Namun, di Indonesia sendiri,
jati jawa menjadi primadona. Tekstur jati jawa lebih halus dan kayunya lebih
kuat dibandingkan jati dari daerah lain di negeri ini. Produk-produk ekspor
yang disebut berbahan java teak (jati jawa, khususnya dari Jawa Tengah dan Jawa
Timur) sangat terkenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri.
Menurut
sifat-sifat kayunya, di Jawa orang mengenal beberapa jenis jati (Mahfudz dkk., t.t.):
- Jati lengo atau jati malam, memiliki kayu yang keras, berat, terasa halus bila diraba dan seperti mengandung minyak (Jw.: lengo, minyak; malam, lilin). Berwarna gelap, banyak berbercak dan bergaris.
- Jati sungu. Hitam, padat dan berat (Jw.: sungu, tanduk).
- Jati werut, dengan kayu yang keras dan serat berombak.
- Jati doreng, berkayu sangat keras dengan warna loreng-loreng hitam menyala, sangat indah.
- Jati kembang.
- Jati kapur, kayunya berwarna keputih-putihan karena mengandung banyak kapur. Kurang kuat dan kurang awet.
Kegunaan kayu jati
Permukaan
mebel jati.
Kayu
jati mengandung semacam minyak dan endapan di dalam sel-sel kayunya, sehingga
dapat awet digunakan di tempat terbuka meski tanpa divernis; apalagi bila
dipakai di bawah naungan atap.
Jati
sejak lama digunakan sebagai bahan baku pembuatan kapal laut, termasuk
kapal-kapal VOC yang melayari samudera
di abad ke-17. Juga dalam konstruksi berat seperti jembatan dan bantalan rel.
Di
dalam rumah, selain dimanfaatkan sebagai bahan baku furniture kayu jati
digunakan pula dalam struktur bangunan. Rumah-rumah tradisional Jawa, seperti
rumah joglo Jawa Tengah, menggunakan
kayu jati di hampir semua bagiannya: tiang-tiang, rangka atap, hingga ke
dinding-dinding berukir.
Dalam
industri kayu sekarang, jati diolah menjadi venir (veneer) untuk melapisi wajah kayu lapis mahal; serta
dijadikan keping-keping parket (parquet)
penutup lantai. Selain itu juga diekspor ke mancanegara dalam bentuk furniture
luar-rumah.
Ranting-ranting
jati yang tak lagi dapat dimanfaatkan untuk mebel, dimanfaatkan sebagai kayu
bakar kelas satu. Kayu jati menghasilkan panas yang tinggi, sehingga dulu
digunakan sebagai bahan bakar lokomotif
uap.
Sebagian
besar kebutuhan kayu jati dunia dipasok oleh Indonesia dan Myanmar.
Fungsi ekonomis hutan jati jawa: hasil hutan
kayu
Sebagai
jenis hutan paling luas di Pulau Jawa, hutan jati memiliki nilai ekonomis,
ekologis, dan sosial yang penting.
Kayu
jati jawa telah dimanfaatkan sejak zaman Kerajaan Majapahit. Jati terutama
dipakai untuk membangun rumah dan alat pertanian. Sampai dengan masa Perang
Dunia Kedua, orang Jawa pada umumnya hanya mengenal kayu jati sebagai bahan
bangunan. Kayu-kayu bukan jati disebut ‘kayu tahun’. Artinya, kayu yang
keawetannya untuk beberapa tahun saja.
Selain
itu, jati digunakan dalam membangun kapal-kapal niaga dan kapal-kapal perang.
Beberapa daerah yang berdekatan dengan hutan jati di pantai utara Jawa pun
pernah menjadi pusat galangan kapal, seperti Tegal, Juwana, Tuban, dan
Pasuruan. Namun, galang kapal terbesar dan paling kenal berada di Jepara dan
Rembang, sebagaimana dicatat oleh petualang Tomé Pires pada awal abad ke-16.
VOC
(Vereenigde Oost-Indische Compagnie, Kompeni Hindia Timur Belanda) bahkan
sedemikian tertarik pada “emas hijau” ini hingga berkeras mendirikan loji
pertama mereka di Pulau Jawa —tepatnya di Jepara— pada 1651. VOC juga
memperjuangkan izin berdagang jati melalui Semarang, Jepara, dan Surabaya. Ini
karena mereka menganggap perdagangan jati akan jauh lebih menguntungkan daripada
perdagangan rempah-rempah dunia yang saat itu sedang mencapai puncak
keemasannya.
Di
pertengahan abad ke-18, VOC telah mampu menebang jati secara lebih modern. Dan,
sebagai imbalan bantuan militer mereka kepada Kerajaan Mataram di awal abad
ke-19, VOC juga diberikan izin untuk menebang lahan hutan jati yang luas.
VOC
lantas mewajibkan para pemuka bumiputera untuk menyerahkan kayu jati kepada VOC
dalam jumlah tertentu yang besar. Melalui sistem blandong, para pemuka bumiputera
ini membebankan penebangan kepada rakyat di sekitar hutan. Sebagai imbalannya,
rakyat dibebaskan dari kewajiban pajak lain. Jadi, sistem blandong tersebut
merupakan sebentuk kerja paksa.
VOC
kemudian memboyong pulang gelondongan jati jawa ke Amsterdam dan Rotterdam.
Kedua kota pelabuhan terakhir ini pun berkembang menjadi pusat-pusat industri
kapal kelas dunia.
Di
pantai utara Jawa sendiri, galangan-galangan kapal Jepara dan Rembang tetap
sibuk hingga pertengahan abad ke-19. Mereka gulung tikar hanya setelah banyak
pengusaha perkapalan keturunan Arab lebih memilih tinggal di Surabaya.
Lagipula, saat itu kapal lebih banyak dibuat dari logam dan tidak banyak
bergantung pada bahan kayu.
Namun,
pascakemerdekaan negeri ini, jati jawa masih sangat menguntungkan. Produksi
jati selama periode emas 1984-1988 mencapai 800.000 m3/tahun. Ekspor kayu
gelondongan jati pada 1989 mencapai 46.000 m3, dengan harga jual dasar 640
USD/m3.
Pada
1990, ekspor gelondongan jati dilarang oleh pemerintah karena kebutuhan
industri kehutanan di dalam negeri yang melonjak. Sekalipun demikian, Perhutani
mencatat bahwa sekitar 80% pendapatan mereka dari penjualan semua jenis kayu
pada 1999 berasal dari penjualan gelondongan jati di dalam negeri. Pada masa
yang sama, sekitar 89% pendapatan Perhutani dari ekspor produk kayu berasal
dari produk-produk jati, terutama yang berbentuk garden furniture (mebel
taman).
Manfaat yang lain
Daun
jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk
pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan
daun jati terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi jamblang yang terkenal
dari daerah Jamblang, Cirebon.
Daun
jati juga banyak digunakan di Yogyakarta,
Jawa Tengah dan Jawa Timur
sebagai pembungkus tempe.
Berbagai
jenis serangga hama jati juga sering
dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu),
yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat-jati (Endoclita). Ulat
jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya. Ulat ini
dikumpulkan menjelang musim hujan, di pagi hari ketika ulat-ulat itu
bergelantungan turun dari pohon untuk mencari tempat untuk membentuk kepompong
(Jw. ungkrung). Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan.
Fungsi ekonomis lain dari hutan jati jawa
Jika
berkunjung ke hutan-hutan jati di Jawa, kita akan melihat bahwa kawasan-kawasan
itu memiliki fungsi ekonomis lain di samping menghasilkan kayu jati.
Banyak
pesanggem (petani) yang hidup di desa hutan jati memanfaatkan kulit pohon jati
sebagai bahan dinding rumah mereka. Daun jati, yang lebar berbulu dan gugur di
musim kemarau itu, mereka pakai sebagai pembungkus makanan dan barang. Cabang
dan ranting jati menjadi bahan bakar bagi banyak rumah tangga di desa hutan
jati.
Hutan
jati terutama menyediakan lahan garapan. Di sela-sela pepohonan jati, para
petani menanam palawija berbanjar-banjar. Dari hutan jati sendiri, mereka dapat
memperoleh penghasilan tambahan berupa madu, sejumlah sumber makanan
berkarbohidrat, dan obat-obatan.
Makanan
pengganti nasi yang tumbuh di hutan jati misalnya adalah gadung (Dioscorea hispida) dan uwi (Dioscorea alata). Bahkan,
masyarakat desa hutan jati juga memanfaatkan iles-iles (Ammorphophallus)
pada saat paceklik. Tumbuhan obat-obatan tradisional seperti kencur (Alpina longa), kunyit (Curcuma domestica), jahe (Zingiber officinale), dan temu lawak (Curcuma
longa) tumbuh di kawasan hutan ini.
Pohon
jati juga menghasilkan bergugus-gugus bunga keputihan yang merekah tak lama
setelah fajar. Masa penyerbukan bunga jati yang terbaik terjadi di sekitar
tengah hati —setiap bunga hidup hanya sepanjang satu hari. Penyerbukan bunga
dilakukan oleh banyak serangga, tetapi terutama oleh jenis-jenis lebah. Oleh
karena itu, penduduk juga sering dapat memanen madu lebah dari hutan-hutan
jati.
Masyarakat
desa hutan jati di Jawa juga biasa memelihara ternak seperti kerbau, sapi, dan
kambing. Jenis ternak tersebut memerlukan rumput-rumputan sebagai pakan.
Walaupun para petani kadang akan mudah mendapatkan rerumputan di sawah atau
tegal, mereka lebih banyak memanfaatkan lahan hutan sebagai sumber penghasil
makanan ternak. Dengan melepaskan begitu saja ternak ke dalam hutan, ternak
akan mendapatkan beragam jenis pakan yang diperlukan. Waktu yang tidak
dipergunakan oleh keluarga petani untuk mengumpulkan rerumputan dapat
dimanfaatkan untuk kegiatan lainnya.
Fungsi non-ekonomis hutan jati jawa
Pada
2003, sekitar 76% lahan hutan jati Perhutani di Jawa dikukuhkan sebagai hutan
produksi, yaitu kawasan hutan dengan fungsi pokok memproduksi hasil hutan
(terutama kayu). Hanya kurang dari 24% hutan jati Perhutani dikukuhkan sebagai
hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, dan cagar alam.
Mengingat
lahannya yang relatif cukup luas, hutan jati dipandang memiliki fungsi-fungsi
non-ekonomis yang penting. Fungsi-fungsi non-ekonomis tersebut adalah sebagai
berikut:
Fungsi penyangga ekosistem
Tajuk
pepohonan dalam hutan jati akan menyerap dan menguraikan zat-zat pencemar
(polutan) dan cahaya yang berlebihan. Tajuk hutan itu pun melakukan proses
fotosintesis yang menyerap karbondioksida dari udara dan melepaskan kembali
oksigen dan uap air ke udara. Semua ini membantu menjaga kestabilan iklim di
dalam dan sekitar hutan. Hutan jati pun ikut mendukung kesuburan tanah. Ini
karena akar pepohonan dalam hutan jati tumbuh melebar dan mendalam. Pertumbuhan
akar ini akan membantu menggemburkan tanah, sehingga memudahkan air dan udara
masuk ke dalamnya. Tajuk (mahkota hijau) pepohonan dan tumbuhan bawah dalam
hutan jati akan menghasilkan serasah, yaitu jatuhan ranting, buah, dan bunga
dari tumbuhan yang menutupi permukaan tanah hutan. Serasah menjadi bahan dasar
untuk menghasilkan humus tanah. Berbagai mikroorganisme hidup berlindung dan
berkembang dalam serasah ini. Uniknya, mikroorganisme itu juga yang akan
memakan dan mengurai serasah menjadi humus tanah. Serasah pun membantu meredam
entakan air hujan sehingga melindungi tanah dari erosi oleh air.
Fungsi biologis
Jika
hutan jati berbentuk hutan murni —sehingga lebih seperti ‘kebun’ jati— erosi
tanah justru akan lebih besar terjadi. Tajuk jati rakus cahaya matahari
sehingga cabang-cabangnya tidak semestinya bersentuhan. Perakaran jati juga
tidak tahan bersaing dengan perakaran tanaman lain. Dengan demikian, serasah
tanah cenderung tidak banyak. Tanpa banyak tutupan tumbuhan pada lantai hutan,
lapisan tanah teratas lebih mudah terbawa oleh aliran air dan tiupan angin.
Untunglah,
hutan jati berkembang dengan sejumlah tanaman yang lebih beragam. Di dalam
hutan jati, kita dapat menemukan bungur (Lagerstroemia speciosa), dlingsem
(Homalium tomentosum), dluwak (Grewia paniculata), katamaka (Kleinhovia
hospita), kemloko (Phyllanthus emblica), Kepuh (Sterculia foetida), kesambi
(Schleichera oleosa), laban (Vitex pubscens), ploso (Butea monosperma), serut
(Streblus asper), trengguli (Cassia fistula), winong (Tetrameles nudflora), dan
lain-lain. Lamtoro (Leucenia leucocephalla) dan akasia (Acacia villosa) pun
ditanam sebagai tanaman sela untuk menahan erosi tanah dan menambah kesuburan
tanah.
Daerah
Gunung Kidul, Yogyakarta, yang gersang dan rusak parah sebelum 1978, ternyata
berhasil diselamatkan dengan pola penanaman campuran jati dan jenis-jenis lain
ini. Dalam selang waktu hampir 30 tahun, lebih dari 60% lahan rusak dapat diubah
menjadi lahan yang menghasilkan. Penduduk setempat paling banyak memilih
menanam jati di lahan mereka karena melihat nilai manfaatnya, cara tanamnya
yang mudah, dan harga jual kayunya yang tinggi. Mereka mencampurkan penanaman
jati di kebun dan pekarangan mereka dengan mahoni (Swietenia mahogany), akasia
(Acacia villosa), dan sonokeling (Dalbergia latifolia).
Daerah
Gunung Kidul kini berubah menjadi lahan hijau yang berhawa lebih sejuk dan
memiliki keragaman hayati yang lebih tinggi. Perubahan lingkungan itu telah
mengundang banyak satwa untuk singgah, terutama burung —satwa yang kerap
dijadikan penanda kesehatan suatu lingkungan. Selain itu, kekayaan lahan ini
sekaligus menjadi cadangan sumberdaya untuk masa depan.
Fungsi sosial
Banyak
lahan hutan jati di Jawa, baik yang dikukuhkan sebagai hutan produksi maupun
hutan non-produksi, memberikan layanan sebagai pusat penelitian dan pendidikan,
pusat pemantauan alam, tempat berekreasi dan pariwisata, serta sumber
pengembangan budaya.
Yang
mungkin paling menarik untuk dikunjungi adalah Monumen Gubug Payung di Cepu,
Blora, Jawa Tengah. Tempat ini merupakan museum hidup dari pepohonan jati yang
berusia lebih dari seabad, setinggi rata-rata di atas 39 meter dan berdiameter
rata-rata 89 sentimeter.
Kita
dapat menikmati pemandangan hutan dari ketinggian dengan menumpang loko
“Bahagia”. Di sini, kita juga dapat meninjau Arboretum Jati; hutan buatan
dengan koleksi 32 jenis pohon jati yang tumbuh di seluruh Indonesia. Ada juga
Puslitbang Cepu yang mengembangkan bibit jati unggul yang dikenal sebagai JPP
(Jati Plus Perhutani). Pengunjung boleh membeli sapihan jati dan menanamnya
sendiri di sini. Pengelola kemudian akan merawat dan menamai pohon itu sesuai
dengan nama pengunjung bersangkutan.



No comments:
Post a Comment